Persis Solo: Sepak Bola yang Menjadi Harga Diri dan Napas Kota
Penulis : Mardhiah Nuril Lathifah – RCDO Configured Indonesia
Surakarta, 26 September 2025 (Configured Indonesia Part of KMNR) - Persis Solo merupakan salah satu klub legendaris di kancah sepak bola Indonesia. Berdiri pada 8 November 1923, Laskar Sambernyawa, julukan Persis Solo, turut memprakarsai berdirinya perserikatan sepak bola di tingkat nasional bersama tujuh perserikatan daerah (bond) lainnya pada 1930. Perserikatan tujuh daerah ini yang kelak bertransformasi menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia atau PSSI seperti yang dikenal khalayak saat ini.
Pasang-surut telah dilewati Persis Solo sejak pembentukannya. Saat ini, Persis Solo tengah eksis di kasta tertinggi liga Indonesia yakni Indonesia Super League. Latar pendiriannya yang membawa semangat kedaerahan turut membentuk kelekatan tersendiri bersama warga kota. Persis Solo telah menjelma sebagai identitas kultural dan bagian integral dari masyarakat Kota Solo dan sekitarnya.
Sejarah Pendirian
Sama halnya dengan daerah lain di Indonesia, permainan sepak bola modern di Kota Solo dipengaruhi oleh keberadaan orang-orang Belanda yang mengisi kursi di pemerintahan kolonial. Ketika itu, banyak instansi yang membentuk klub atau perkumpulan yang hanya berisikan pegawai-pegawai Belanda. Dari sana muncul keinginan para pribumi yang tidak mendapat tempat di klub tersebut untuk membentuk hal serupa (Pratama, 2020).

Perkumpulan sepak bola pribumi pertama didirikan pada tahun 1908 di Solo dengan nama “R.O.M.E.O”. Klub ini lah yang menjadi cikal bakal pembentukan klub Persis Solo. Kabar pembentukan perkumpulan ini lantas menyebar hingga daerah lain dan turut menyulut semangat mereka untuk membentuk bond tersendiri. Setelah itu, bermunculan enam perkumpulan lainnya yang juga melekat sebagai identitas daerah asal seperti West Java Voetbal Bond, Soerabaja Voetbal Bond, Bandoeng Voetbal Bond, hingga Semarang Voetbal Bond.
Tidak hanya memengaruhi daerah lain, Kota Solo sendiri akhirnya bergeliat dengan munculnya klub-klub lain seperti MARS, De Leeuw, Legioen, KRAS, hingga MAT. Kemunculan banyak klub tersebut akhirnya menggerakkan Reksodiprojo, Sutarman dari ROMEO, dan Sastroaksono dari MARS untuk membentuk sebuah perkumpulan yang dinamakan Vorstenlandche Voetbal Bond (VVB) pada tahun 1923. Pengurus pertama dari ikatan tersebut adalah Reksodiprojo, Sastroaksono, Sumohartono, Kartosumanto, Sutidjo, Sastrokaryono, Djoemadi, Reksodikoro, Isman Mursidi, Jusup, dan Abdulllah.
Adanya VVB membuat sepak bola Solo semakin maju dan disegani. PS De Leeuw dan MARS yang kerap tampil di kompetisi antar daerah dengan membawa nama VVB semakin berkibar. Namun, kompetisi yang mulanya membawa semangat kedaerahan perlahan bergeser maknanya dan hanya bisa dinikmati oleh kalangan kelas atas. Terlebih juga, kejuaraan tersebut telah banyak disusupi campur tangan pemerintah Hindia Belanda.
Ir. Soeratin Sosrosoegondo yang kelak dikenal sebagai pelopor berdirinya PSSI, mendorong perkumpulan daerah untuk menjadikan sepak bola sebagai alat perjuangan untuk menentang pendudukan kolonial Belanda. VVB termasuk dalam perserikatan yang diajak pertemuan bawah tanah oleh Soeratin. Dari sekian kali pertemuan, juga bersama tokoh dari daerah lain, terbentuklah Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di Yogyakarta pada 1930. Di belakangnya, terdapat sokongan tujuh bond nasional yakni Surakarta (VVB), Yogyakarta (PSIM), Surabaya (SIVB), Bandung (BIVB), Madiun (MVB), Magelang (IVBM) dan Jakarta (VIJ).
Nama “Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia” sendiri merupakan usulan dari utusan Solo. Memahami arah perjuangan saat itu ialah semangat kemerdekaan Indonesia, VVB yang kental nuansa Belanda akhirnya berganti nama menjadi Persatuan Sepak Bola Indonesia Surakarta (PERSIS) pada 1933 atau sepuluh tahun sejak pendiriannya. Dr. Suratman Erwin tercatat sebagai ketua pertama PERSIS.
Kiprah di Kompetisi Kancah Nasional
Kiprah Persis Solo di kompetisi tingkat nasional membentang sejak awal pendiriannya hingga saat ini ketika akan memasuki usia 102 tahun. Sejak restrukturisasi kompetisi usai terbentuknya PSSI, Persis Solo turut ambil bagian di kejuaraan era perserikatan. Selain mengadakan kompetisi internal di daerah masing-masing, terdapat pula kejuaraan antar perserikatan yang berjuluk Steden Tournooi. Gelaran ini pertama kali dilaksanakan di Surakarta secara terpusat sejak 1931 dan bertahan hingga 1994. Persis Solo sendiri telah mengemas tujuh gelar juara masing-masing pada 1935, 1936, 1939, 1940, 1941, 1942, dan 1943.
Sepak bola Indonesia bertransformasi dan membentuk format kompetisi baru bertajuk Ligina (Liga Indonesia). Kompetisi ini merupakan peleburan dari kompetisi Perserikatan (Persis Solo ada di dalamnya) yang bersifat amatir dan Galatama (semi-profesional) dan memainkan musim pertamanya pada 1994. Sayang, perubahan format tersebut membuat Persis Solo harus menempati Divisi II (kasta ketiga). Namun, di musim itu pula Laskar Sambernyawa berhasil keluar sebagai juara Divisi II usai menaklukkan Persikab Bandung. Hasil tersebut membuat Persis Solo berhak untuk promosi ke Divisi I (kasta kedua) di musim berikutnya.
Pasang surut terus dialami oleh Persis Solo. Namanya mulai bergeser dari sorotan seiring berdatangannya tim-tim lain yang memilih berkandang di Solo dan berlaga di panggung utama liga Indonesia seperti Pelita Solo (2000-2002), Persijatim Solo FC (2002-2004), dan Solo FC (2010-2011). Persis Solo baru berhasil berlaga di kasta teratas usai keluar sebagai runner-up Divisi I 2006, meski harus terdegradasi kembali satu musim setelahnya.
Sejak itu, Persis Solo lama berkutat di kasta kedua liga Indonesia, tepatnya 14 tahun lamanya. Perjuangan untuk menggapai kompetisi tertinggi terus dilanjutkan hingga era perwajahan baru Liga Indonesia yakni Liga 2 (kasta kedua). Di musim pertama Liga 2 pada 2018, Persis terhenti di babak pertama usai menyelesaikan fase di peringkat lima klasemen Wilayah Barat. Di musim berikutnya pun hasil yang didapat identik. Barulah di musim 2021 (musim 2020 ditiadakan lantaran pandemi Covid-19), Laskar Sambernyawa dapat merebut tiket untuk berlaga di Liga 1 (saat ini Super League) dan bertahan hingga sekarang.
Dinamika
Dibalik cerita panjang tentang kiprah Persis Solo di panggung sepak bola nasional, tersimpan dinamika yang turut membentuk identitas tim berwarna khas merah itu. Salah satu yang paling diingat adalah ketika Persis Solo terpecah menjadi dua kubu. Di musim 2011/2012, sepak bola Indonesia secara keseluruhan diterpa masalah dualisme liga yang merembet pada dualisme klub.

Isu ini juga ikut menerpa Persis Solo dan sempat membuat kelompok suporter bingung harus mengarahkan dukungan kemana. Pasalnya, kedua tim sama-sama mendaku sebagai Persis Solo yang asli dan sah. Praktik dualisme ini pun turut memengaruhi kestabilan tim dan secara lebih luas, kestabilan liga.
Kisruh ini turut menjadi latar dari peristiwa lain yang juga menjadi catatan penting dalam dalam sejarah sepak bola nasional. Diego Mendieta, seorang Paraguay yang memperkuat Persis Solo LSI (Liga Super Indonesia) meninggal di kontrakannya, 4 Desember 2012, dengan status gajinya tertunggak hingga 131 juta rupiah.
Sayangnya, isu keterlambatan pemenuhan hak pemain merupakan isu yang akrab dengan Persis Solo. Teranyar, pada awal musim 2025/2026, isu tersebut kembali dikaitkan dengan Laskar Sambernyawa. Pihak manajemen pun akhirnya angkat bicara dan memberikan klarifikasi terkait hal tersebut. Keterlambatan pemenuhan hak pemain, diungkap oleh manajemen Persis Solo, lantaran dampak dari kurang tertibnya penerimaan hak perusahaan dari pihak-pihak yang berkewajiban. Tidak hanya dari sponsor, tetapi juga kompensasi pertandingan dari federasi.
Persis Solo Bagian dari Kultur Kota
Dengan sejarah panjang dan dinamikanya, Persis Solo lantas ikut menjadi bagian dari kehidupan warga Solo. Ketika Laskar Sambernyawa bertanding, masyarakat berbondong-bondong untuk menyaksikan, baik dari layar kaca maupun bertandang langsung ke stadion. Terlebih dalam empat tahun terakhir ketika Persis Solo mentas di kasta teratas liga Indonesia, pertandingan Persis Solo sontak menjadi opsi hiburan bagi warga.

Dari segi penggemar, terdapat tiga kelompok besar suporter Persis Solo saat ini yaitu Pasoepati, Ultras 1923, dan Surakartans. Masing-masing kelompok memiliki gaya dan pendekatan tersendiri dalam menunjukkan dukungannya (Pamungkas, 2023).
Pasoepati
Pasoepati merupakan kelompok suporter tertua yang berdiri pada 2000. Sejatinya, kelompok ini dibentuk untuk mendukung Pelita Solo, klub yang tidak lahir di Solo, tetapi memilih kandang di sini. Hal ini terbukti dari akronim sebenarnya dari nama “Pasoepati” yaitu Suporter Pelita Sejati.
Dalam perjalanannya, Pasoepati sudah mendukung empat tim yang berbeda, dengan Pelita Solo, tim lain yang didukung ialah Persijatim Solo FC, Solo FC, dan akhirnya fokus mengarahkan dukungan pada Persis Solo sejak 2005 hingga saat ini. Seiring dengan itu, akronim “Pasoepati” diubah menjadi Pasukan Suporter Paling Sejati.
Saat ini, Pasoepati merupakan kelompok suporter Persis Solo terbesar yang tidak hanya mengakomodasi penggemar dari Kota Solo, tetapi juga dari Solo Raya dan luar kota. Dalam strukturnya, terdapat koordinator wilayah di masing-masing area.
Ultras 1923
Kelompok selanjutnya adalah Ultras 1923, yang sesuai namanya, membawa kultur ultras dalam ekspresi dukungannya. Kelompok ini identik dengan pakaian serba hitam dan bernyanyi yel-yel atau chant penyemangat selama pertandingan berlangsung. Ultras 1923 sendiri menempati tribun selatan Stadion Manahan, kandang Persis Solo.
Kelompok ini berdiri pada 2009 meski sebenarnya sudah dirintis sejak 2005-2006. Kelompok ini diisi oleh suporter-suporter independen yang menginginkan sebuah organisasi. Embrio ultras 1923 semakin berkembang terlebih usai menjadi saksi keberhasilan Persis Solo menapaki Divisi Utama pada 2006-2007. Secara struktural, kelompok ini dipimpin oleh seseorang yang menempati posisi komandan.
Surakartans
Surakartans merupakan kelompok termuda yang berdiri pada 2014. Kelompok ini mengadopsi kultur kasual yang merupakan sub-kultur hooligans. Penandanya adalah suporter yang datang ke stadion menggunakan pakaian rapi dan kasual. Surakartans sendiri menempati tribun timur Stadion Manahan.
Berbeda dengan dua kelompok sebelumnya, Surakartans tidak menganut sistem organisasi yang kaku. Kelompok ini bersifat cair, kolektif, dan tidak memiliki pemimpin khusus. Meski demikian, terdapat kelompok kecil yang disebut firm sebagai perwakilan yang mengurus event hingga ticketing.
Dalam upayanya menjadi bagian integral dan relevan di masyarakat, Persis Solo melakukan strategi pendekatan yang juga dilakukan untuk memperkuat posisi dan daya tawar sebagai brand. Salah satu medium yang digunakan adalah situs yang menyajikan informasi dan berita, yakni PERSIS Solo Official App. Kajian tingkat kepuasan terhadap medium ini dilakukan oleh (Pemana dan Junaedi, 2025) dan menunjukkan hasil sebagai berikut.
Tingkat kesenjangan
Tingkat kesenjangan berarti menggambarkan perbedaan harapan dan realitas seseorang terhadap sebuah media. Dari 100 sampel suporter Persis Solo dari kelompok yang beragam ditemukan tingkat kepuasan yang tinggi pada motif kebutuhan informasi (nilai kesenjangan rendah, 6-11%). Hal ini mengindikasikan aplikasi tersebut sudah efektif dalam menyediakan informasi. Nilai kepuasaan tinggi lainnya juga didapatkan pada motif identitas pribadi, kecuali pada indikator kecintaan dan loyalitas yang memiliki nilai kesenjangan sedang (18%). Adapun motif integrasi dan interaksi sosial menunjukkan angka kepuasan rendah (nilai kesenjangan tinggi, 39%). Hal ini dapat menjadi catatan klub untuk dapat meningkatkan fitur interaktif dan pengalaman pengguna. Terakhir, motif hiburan mendapat nilai kesenjangan sedang yakni berada dalam rentang 14-18%.
Media sosial turut menjadi perhatian utama manajemen Persis Solo dalam melaksanakan strategi pendekatan pada masyarakat. Ilyas (2022) mengkaji strategi visual branding media sosial Instagram Persis Solo dan berikut hasilnya.
Hal baru dan inovasi senantiasa dilakukan tim media Persis Solo dalam penyajian konten. Ilyas menilai penulisan caption atau takarir merupakan aspek yang penting sebab sebuah unggahan adalah satu kesatuan dengan penjelasan yang menyertainya. Dalam postingan feed, Persis Solo selalu menyertakan hashtag baik tagline klub seperti #LaskarSambernyawa dan #SumusupingRasaJati atau juga aktivasi sponsor seperti #FreefirexPERSIS, #AladinxPERSIS, dan #GurihxPERSIS.
Pembagian peran yang jelas juga ikut membantu kelancaran dalam manajemen media sosial. Pengelolaan media sosial Persis Solo merupakan tanggung jawab dari divisi media dan divisi kreatif yang masing-masing memiliki seorang pengarah. Divisi media berfokus pada pengelolaan brief, caption, press conference, dan jadwal unggahan konten. Sedangkan divisi kreatif berfokus pada rancangan visual dan menyusun moodboard.