Pernahkah kalian bertanya-tanya mengapa di tengah isu lesunya ekonomi global, jalanan di Kota Surakarta tetap penuh oleh kendaraan pribadi, mall selalu penuh, maupun banyak event dan kafe-kafe baru seolah tak pernah sepi pengunjung?
Kota Surakarta atau yang biasa disebut juga Kota Solo memang berada dalam fase unik. Secara statistik, Kota Solo menunjukkan performa yang melampaui ekspektasi banyak pihak. Inilah yang disebut sebagai anomali positif dari salah satu kota jantung Provinsi Jawa Tengah.
1. Pertumbuhan Ekonomi yang Melawan Arus
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kota Surakarta mencatatkan pertumbuhan yang sangat progresif yaitu mencapai 5,63% pada tahun 2025. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, namun merupakan anomali karena berhasil melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah (5,37%) dan nasional yang hanya berada di angka 5,11%. Sedangkan kategori pengeluaran tertinggi di Kota Surakarta adalah pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga (4,8%).
Artinya, secara makro, roda ekonomi Kota Solo berputar lebih cepat dibandingkan banyak kota lain di Indonesia. Kota Solo bukan lagi ‘kota pensiunan’ yang lambat, melainkan mesin pertumbuhan yang tangguh.
(Source: Orami.co.id)
2. Ledakan Digital: Dompet Digital, Gaya Hidup Maksimal
Anomali daya beli ini diperkuat oleh data Interactive QRIS. Akselerasi digitalisasi keuangan di Solo Raya menunjukkan angka yang masif, di mana transaksi via QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) menembus Rp96,16 miliar per Agustus 2025.
Lonjakan transaksi digital ini memberi dua pesan penting: 1) Warga Kota Solo sangat cepat mengadopsi teknologi digital, dan 2) Transaksi kecil tetapi frekuensinya tinggi (seperti beli kopi atau jajanan pasar) menunjukkan bahwa uang tunai atau saldo digital di masyarakat sebenarnya terus mengalir.
3. Teka-teki UMK vs Realita Lapangan
Jika melihat Upah Minimum Kota (UMK) Solo yang berada di kisaran 2,5 jutaan, mungkin banyak yang bingung bagaimana warga Solo bisa tetap eksis di sektor kuliner, ritel, hingga destinasi wisata yang makin hari makin menjamur.
Di sinilah muncul fenomena daya beli laten (hidden purchasing power). Ada struktur pendapatan dari sektor informal dan ekonomi kreatif yang mungkin belum terpotret sepenuhnya secara formal. Banyak warga Kota Solo yang memiliki ‘sampingan’ mulai dari bisnis online, pekerja lepas, hingga usaha mikro yang perputaran uangnya sangat cepat namun seringkali luput dari pencatatan data upah formal.
4. Kota Solo sebagai Magnet ‘Ekonomi Transit’
Kota Solo memiliki luas wilayah yang kecil dibandingkan wilayah Solo Raya (hanya sekitar 46,72 km²), namun berfungsi sebagai magnet bagi wilayah di sekitarnya.
“Uang yang berputar di Solo bukan hanya milik warga Solo.”
Adanya infrastruktur tol dan revitalisasi destinasi wisata membuat warga dari area sekitarnya seperti Boyolali, Sragen, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, hingga Klaten (Solo Raya) menjadikan Kota Solo sebagai tempat utama untuk berwisata, berkuliner, dan lain-lain. Inilah yang menyebabkan profil konsumsi di lapangan terlihat jauh lebih dinamis daripada angka gaji bulanan pegawainya.
Kesimpulan: Kota Solo adalah Kecil dengan Perputaran Besar
Anomali ekonomi Kota Solo membuktikan bahwa daya beli tidak selalu berbanding lurus dengan angka gaji di atas kertas. Efisiensi biaya hidup primer, kepiawaian mengadopsi teknologi digital, serta kuatnya sektor ekonomi informal membuat masyarakat Kota Solo tetap memiliki ‘nafas’ yang panjang untuk berbelanja dan menikmati hidup.
Kota Solo berhasil membuktikan diri sebagai kota yang tidak hanya tangguh, tetapi juga sangat cerdas dalam mengelola ekosistem teknologi untuk menjaga daya belinya tetap stabil.
Triya Ayu Retnaningtyas
Configured Indonesia
Sumber:
BPS Kota Surakarta. 2026. Ekonomi Kota Surakarta Tahun 2025 Tumbuh 5,63 Persen. https://surakartakota.bps.go.id/id/pressrelease/2026/03/04/476/ekonomi-kota-surakarta-tahun-2025-tumbuh-5-63-persen.html
BPS Provinsi Jawa Tengah. 2026. Ekonomi Jawa Tengah Tahun 2025 Tumbuh 5,37 Persen. https://jateng.bps.go.id/id/pressrelease/2026/02/05/1645/ekonomi-jawa-tengah-tahun-2025-tumbuh-5-37-persen.html
BPS. 2026. Ekonomi Indonesia Tahun 2025 Tumbuh 5,11 Persen. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/02/05/2546/ekonomi-indonesia-tahun-2025-tumbuh-5-11-persen.html
Interactive QRIS. 2025. Solo Raya Makin Digital! Transaksi QRIS Tembus Rp 96 Miliar, Bisnismu Masih Tunai? https://qris.interactive.co.id/homepage/blog-detail.php?lang=id&page=MTk3-solo-raya-makin-digital-transaksi-qris-tembus-rp-96-miliar-bisnismu-masih-tunai
Analisis Tim Configured Indonesia by Karavan Media Network & Research
