Bagi warga Solo, deretan kuliner olahan babi yang mudah ditemui sepanjang jalan bukanlah hal yang mengejutkan. Dari mulai sajian kelas restoran hingga warung-warung kaki lima, semuanya berlomba menyajikan beragam olahan dengan cita rasa terbaik.
Sajian babi merupakan sesuatu yang akrab di lidah warga Solo. Kuliner ini menjadi ikon unik, khususnya dalam konteks kultur Jawa. Pasalnya, bukan hanya tentang penggoyang lidah dan kenikmatan di perut, tetapi juga menyangkut sebuah proses sosial dan kebudayaan. Sejarah masuknya kuliner olahan babi ke Solo tidak lepas dari peristiwa sejarah yang dikenal dengan Geger Pecinan.
Geger Pecinan berawal dari ketegangan antara komunitas Tionghoa dengan VOC di Batavia pada abad 18 yang berujung pada pembantaian besar-besaran oleh VOC. Perlawanan komunitas Tionghoa lantas menyebar ke seluruh Jawa termasuk ke daerah yang kelak disebut Solo.
Pasukan Tionghoa awalnya tiba di Kartasura dan bergabung dengan Kerajaan Mataram yang juga sama tidak puasnya dengan VOC. Hal ini yang mengawali persekutuan antara komunitas Jawa dan Tionghoa dengan maksud untuk memberontak kepada VOC.
Source: Fristin Intan/Kompas.com
Jejak Sejarah yang Tidak Lekang Waktu
Lambat laun, interaksi sosial yang terjadi membuat adanya peleburan budaya di komunitas masyarakat. Warga Tionghoa membawa tradisi kuliner mereka, termasuk teknik memasak dan bahan-bahan yang biasa digunakan.
Pada awalnya, kuliner ini hanya ditemukan di kediaman masing-masing yang dibuat di dapur sederhana rumahan. Namun, karena rasanya yang khas dan otentik, banyak warga sekitar yang juga meminati olahan babi. Hingga saat ini, kuliner babi semakin berkembang dan menjamur serta memiliki konsumen yang loyal.
Tidak ditemukan jumlah pasti konsumsi olahan babi oleh warga Solo. Namun, berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surakarta pada 2024, babi merupakan hewan ternak yang paling banyak dipotong kedua yaitu sebanyak 3.581 ekor. Angka ini bahkan melebihi jumlah sapi yang dipotong yang hanya sebanyak 2.753 ekor. Di posisi pertama, ditempati oleh Kambing sebanyak 11.672 ekor. Hal ini tidak mengherankan sebab warga Solo juga sangat menggemari kuliner olahan kambing.
Source: Widiarso/Vecteezy
Beragam Olahan Babi yang Populer di Solo
Sate babi: Potongan daging babi yang dimarinasi dengan bumbu rempah kemudian ditusuk dengan lidi dan dipanggang. Biasanya dinikmati dengan sepiring nasi hangat.
Babi kuah: Babi kuah merupakan sajian khas yang terdiri dari campuran daging dan jeroan babi yang disiram dengan kuah kaldu babi. Nikmat disajikan hangat-hangat.
Babi kecap: Sajian yang mirip seperti semur, tetapi dengan bahan baku berupa daging babi. Rasanya perpaduan antara manis dari kecap dan gurih dari rempah dan aroma harum bawang.