SOLO – Dalam rangka menyambut Bulan Sura, Pura Mangkunegaran menghadirkan Surakusuma, sebuah instalasi seni yang mengajak masyarakat memaknai pergantian Tahun Baru Jawa melalui pengalaman reflektif yang sarat akan nilai budaya dan spiritualitas. Lebih dari sekadar pameran, Surakusuma menjadi ruang kontemplasi yang mengundang setiap pengunjung untuk berhenti sejenak dari kesibukan, menengok kembali perjalanan hidup, serta membangun kembali keselarasan antara tubuh, pikiran, dan batin.

Konsep utama Surakusuma berangkat dari filosofi mulih, sebuah makna yang tidak hanya diartikan sebagai perjalanan pulang menuju suatu tempat, tetapi juga sebagai proses kembali mengenali diri sendiri. Melalui pendekatan tersebut, pengunjung diajak memahami bahwa perjalanan hidup tidak selalu tentang bergerak maju, tetapi juga tentang memberi ruang untuk kembali, merefleksikan langkah yang telah ditempuh, dan menemukan keseimbangan baru sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.
Pengalaman tersebut diwujudkan melalui tiga ruang utama yang merepresentasikan tiga dimensi waktu, yakni Atita (masa lalu), Atiki (masa kini), dan Anagata (masa depan). Ketiganya membentuk satu alur perjalanan yang mengajak setiap individu melewati proses refleksi, penyelarasan, hingga pertumbuhan diri. Perjalanan tersebut bermuara pada konsep manunggal, sebuah kondisi ketika tubuh, pikiran, dan batin kembali berada dalam harmoni sehingga seseorang mampu melangkah dengan kesadaran yang lebih utuh.
Keunikan Surakusuma juga terletak pada sifatnya yang terus berkembang. Instalasi ini tidak bersifat statis, melainkan dibentuk oleh setiap pengunjung yang hadir dan meninggalkan jejak pengalaman di dalam ruang. Seiring berjalannya waktu, jejak-jejak tersebut menjadi bagian dari karya yang terus bertumbuh, menjadikan Surakusuma sebagai ruang hidup yang merekam perjalanan kolektif para pengunjung selama penyelenggaraan berlangsung.

Melalui proses tersebut, makna mulih perlahan bertransformasi menjadi pulih. Tidak sekadar kembali ke asal, tetapi juga kembali dengan kesadaran yang lebih dalam, batin yang lebih tenang, serta hubungan yang semakin selaras dengan diri sendiri, sesama manusia, maupun alam semesta.
Sejak resmi dibuka untuk umum pada 18 Juni 2026, Surakusuma mendapat sambutan yang sangat positif dari masyarakat. Hingga saat ini, sebanyak 3.209 pengunjung telah melakukan registrasi untuk mengikuti pengalaman ruang yang dihadirkan dalam instalasi tersebut. Antusiasme ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap ruang-ruang reflektif yang mengangkat kekayaan filosofi budaya Jawa sebagai medium untuk memaknai Bulan Sura di tengah kehidupan modern.
Mangkunegaran mengundang masyarakat untuk turut menjadi bagian dari perjalanan Surakusuma yang masih berlangsung hingga 21 Juli 2026 di Bale Sisworini, Pura Mangkunegaran. Pengunjung dapat melakukan reservasi melalui tautan yang tersedia pada akun Instagram @info.mn maupun melakukan pendaftaran secara langsung di lokasi pameran.
Melalui penyelenggaraan Surakusuma, Mangkunegaran berharap Bulan Sura tidak hanya dipahami sebagai pergantian penanggalan Jawa semata, tetapi juga menjadi momentum untuk berhenti sejenak, merefleksikan perjalanan hidup, memperbarui kesadaran, serta melangkah kembali dengan semangat yang lebih utuh, selaras, dan penuh makna.