Kipas memiliki kedekatan dengan kehidupan manusia sebagai alat sederhana yang memberi kesejukan dan membantu aktivitas sehari-hari. Sejak ribuan tahun lalu—mulai dari Mesir Kuno hingga Jepang, Tiongkok, dan Eropa—kipas telah berkembang tidak hanya sebagai benda fungsional, tetapi juga sebagai bagian dari budaya.
Dalam dunia tari, kipas menjadi sumber inspirasi artistik di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia melalui beragam tarian tradisional. Pada Solo Menari 2026, tema “Aku Kipas (Aha Pankha)” mengangkat kipas sebagai simbol kehidupan—yang menghubungkan, menggerakkan, dan merepresentasikan semangat saling memberi manfaat antar sesama.

Rangkaian Solo Menari 2026 meliputi:
Sarasehan & Workshop Sanggul Nusantara – Menghadirkan edukasi budaya sekaligus praktik penataan sanggul tradisional sebagai bagian penting dari identitas penari, mengajak generasi muda untuk memahami dan melestarikan warisan budaya.
Sarasehan Tari – Forum diskusi yang membahas peran tari kolosal tidak hanya sebagai pertunjukan, tetapi juga sebagai kekuatan dalam ekonomi kreatif, diplomasi budaya, dan aktivasi ruang publik kota.
Workshop Tari Kipas Chandrabaga – Eksplorasi teknik dan karakter tari dengan pendekatan patriotik, menjadikan kipas tidak sekadar properti, tetapi simbol ekspresi, kekuatan, dan makna dalam gerak.
Pengukuhan ASETI Surakarta – Momentum penguatan organisasi seniman tari sebagai wadah kolaborasi, jejaring, dan perjuangan bersama dalam mengembangkan ekosistem seni pertunjukan.
Pameran “Kipas Melintas Waktu” – Menampilkan artefak kipas sebagai jejak perjalanan budaya, menghubungkan sejarah, fungsi, dan nilai estetika dalam kehidupan masyarakat hingga dunia tari.
Workshop Membuat Kipas Kreatif – Ruang eksplorasi kreatif untuk mengolah kipas menjadi karya bernilai, sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis kriya dan kreativitas.
Workshop Melukis Kipas – Menghadirkan kipas sebagai medium visual untuk mengekspresikan identitas, emosi, dan interpretasi seni melalui pendekatan seni lukis.
Pasar Festival (Kriya, Fesyen, dan Kuliner) – Menghidupkan ekosistem ekonomi kreatif dengan mempertemukan karya dan pasar, serta menciptakan dampak ekonomi melalui kolaborasi pelaku kreatif.
Panggung Menari – Menjadi ruang ekspresi bagi berbagai komunitas tari dari berbagai daerah untuk menampilkan karya, memperkuat dialog budaya, dan merayakan keberagaman.
Pertunjukan Tari Kolosal “Aku Kipas” – Puncak acara yang melibatkan 1.550 penari dari berbagai daerah, termasuk penyandang disabilitas, sebagai simbol kekuatan kolektif, kebersamaan, dan inklusivitas dalam seni.
Pembacaan Manifesto Hari Tari Indonesia – Penegasan gerakan kolektif untuk mendorong pengakuan, pengembangan, dan keberlanjutan tari sebagai bagian penting dari identitas budaya Indonesia.
Hari Tari Indonesia harus ada sebagai arah, pijakan dan masa depan kebudayaan Indonesia.
