Surakarta, 18 September 2026 – PPA Maria Martha GKI Sangkrah Solo menggelar Training for Trainers dengan tema Kesehatan Seksual dan Produksi Anak dan Remaja pada Jumat, 18 September 2026. Acara yang digelar di Ruang Manggala, Hotel FIM by Zigna ini bertujuan memberi arahan bagi para mentor terkait tumbuh kembang anak didik mereka.
Ketua Komisi PPA 999, dr. Tonggo Soebroto menyampaikan dalam sambutannya bahwa peran seorang mentor melebihi guru. Seorang mentor mesti memberikan pendampingan menyeluruh pada anak didiknya.
Menurutnya, sebagai mentor, mindset yang harus dimiliki adalah berpikiran terbuka sehingga mudah menerima pengetahuan-pengetahuan baru. “Tujuan akhirnya adalah dapat meningkatkan kesejahteraan melalui kemandirian anak didik,” ucapnya.
Pelatihan mengenai kesadaran kesehatan seksual dan produksi dirasa perlu sebab anak dan remaja berada pada fase pertumbuhan yang ditandai dengan berbagai perubahan fisik, emosional, dan psikologis. Pemahaman yang tepat mengenai proses tersebut diharapkan dapat membantu para mentor memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Dalam sesi materi, dr. Tiffany Subroto menjelaskan bahwa masa pubertas merupakan fase ketika seorang anak mulai mengalami kematangan biologis. Perubahan tersebut ditandai dengan berbagai ciri fisik yang berbeda pada setiap individu. Namun, kematangan biologis tidak selalu diikuti oleh kesiapan psikologis.
Ia juga menekankan pentingnya pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, termasuk mengenali siklus menstruasi yang normal. Menurutnya, pengetahuan tersebut dapat membantu mendeteksi kemungkinan adanya gangguan kesehatan maupun kondisi lain yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Selain membahas pubertas, dr. Tiffany turut mengular perilaku seksual berisiko. Menurutnya, masa remaja merupakan periode ketika seseorang mulai mencari dan mempertanyakan identitas dirinya. Pada fase ini, anak dan remaja membutuhkan lingkungan yang aman untuk berdiskusi serta mendapatkan informasi yang benar dan bertanggung jawab.
Oleh karena itu, di sesi kedua, ia membawakan materi mengenai membangun komunikasi yang ramah anak tentang edukasi kesehatan seksual dan reproduksi. Dalam materi tersebut, dirinya juga memberikan gambaran mengenai cara menjawab pertanyaan sensitif dengan bahasa yang disesuaikan dengan usia anak.
Melalui pelatihan ini, para mentor diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kesehatan seksual dan reproduksi anak serta remaja. Bekal tersebut diharapkan dapat membantu para mentor menjalankan perannya sebagai pendamping yang mampu memberikan arahan, dukungan, dan perlindungan bagi peserta didik dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.