Solo, 11 Juni 2026 – Pada Selasa malam, 16 Juni 2026, tepat saat pergantian bulan Sura, Mangkunegaran akan memasuki 1 Sura Be 1960 dalam satu ajakan sederhana: "Mulih Pulih", pulang untuk sembuh. Rangkaian peringatan sepanjang 24 jam ini tidak dirancang sebagai perayaan, melainkan sebagai tirakat: perjalanan ke dalam diri yang dijalani bersama, dengan sadar.
1 Sura adalah malam yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai ruang hening: waktu untuk melepaskan yang telah lewat (Atita), hadir sepenuhnya di saat ini (Atiki), dan menyambut yang akan datang (Anagata). Tahun ini, 1 Sura jatuh pada Tahun Be, tahun keenam dalam siklus windu delapan tahunan Jawa yang merupakan tahun refleksi dan penyusunan ulang. Di penanggalan Jawa, tahun Be jatuh setelah tahun Dal yang menjadi masa ujian. Dengan siklus ini, 1 Sura yang bertepatan dengan Tahun Be 1960 dalam siklus windu (Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir), memberi dimensi makna yang datang sekali dalam delapan tahun, ini adalah waktunya untuk benar-benar mulih.
"Mulih Pulih" bukan sekadar tema, melainkan sebuah laku. Mulih disimbolisasikan dalam tiga lapisan yang saling melapisi. Pertama, perjalanan geografis, yaitu kembali ke Solo dan ke Pura Mangkunegaran. Kedua, perjalanan identitas, yaitu kembali ke akar kebudayaan yang mengandung nilai tirakat dan laku. Dan yang ketiga, perjalanan paling dalam, yaitu kembali ke dalam diri sendiri menuju manunggal dan suwung, keheningan yang memulihkan. Dari mulih itulah pulih tumbuh.
"1 Sura bukan tontonan, bukan pula festival. Ini adalah undangan untuk mulih – hadir, melepaskan, dan menyambut. Kami menyiapkan seluruh rangkaian sebagai satu kesatuan laku: dari santap sore sebagai ungkapan syukur di Pracima Tuin, Kirab Pusaka Dalem yang berjalan tapa bisu mengelilingi tembok luar Pura, semedi di Pendhapa Ageng dan Dalem Ageng pada tengah malam, dan aktivitas meditasi di Pracima Tuin. Tahun Be ini membawa kedalaman tersendiri karena menandai waktu untuk menyusun ulang diri. Kami berharap siapa pun yang hadir benar-benar menemukan pulih-nya," disampaikan oleh G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo, Ketua Panitia Penyelenggara 1 Sura Be 1960.

Yang membuat peringatan 1 Sura Be 1960 di Mangkunegaran unik dan lebih sakral daripada tahun-tahun sebelumnya, adalah rangkaian tirakat sepanjang 24 jam yang berlangsung dalam tiga fase yang berkesinambungan.
Pada 16 Juni 2026, rangkaian ATITA, yaitu fase melepaskan yang telah lewat, dibuka dengan doa bersama dan santap sore (mutih) sebagai ungkapan syukur sekaligus pembuka laku tirakat, di Pracima Tuin. Tamu undangan kemudian memasuki pameran instalasi Surakusuma di Bale Sisworini, sebuah pameran yang dipersembahkan oleh Sanasuka bagian dari Abdi Muda Mangkunegaran. Pameran ini merupakan representasi pengalaman menelusuri tiga dimensi waktu: Atita (yang telah lewat), Atiki (saat ini), dan Anagata (yang akan datang). Pameran ini terbuka untuk masyarakat sepanjang bulan Juni 2026. Setelah itu, akan dilanjutkan dengan prosesi Kirab Pusaka Dalem, arak-arakan pusaka keraton yang dilangsungkan setiap tahun dalam momentum 1 Sura. Arak-arakan ini akan berjalan dalam tapa bisu mengelilingi tembok luar Pura Mangkunegaran.
Pada tengah malam tepat pada pergantian tahun, dilanjutkan dengan ATIKI, yaitu fase untuk hadir di ruang antara atau ruang kosong, melalui sebuah ritual Semedi di Pendhapa Ageng dan Dalem Ageng. Semedi merupakan puncak laku tirakat malam 1 Sura.
Keesokan harinya, pada 17 Juni 2026, Mangkunegaran menggelar kegiatan ANAGATA, yaitu fase menyambut yang akan datang. Akan ada kegiatan meditasi yang memberikan pengalaman sensori yang berakar pada tradisi. Dimulai dengan Laku Catur Sembah sebagai ritual penyambutan fajar, dilanjutkan dengan menulis kartu harapan, dan ditutup dengan sesi Larasati: meditasi nafas dan harmoni yang berkolaborasi dengan Terigu Studio dan Bottlesmoker. Rangkaian kegiatan ini memberikan pengalaman yang berakar pada tradisi Jawa sebagai cara tubuh, jiwa, dan kesadaran menyambut yang akan datang. Inilah saat di mana mulih menjadi pulih.
Sanasuka adalah komunitas bagian dari Abdi Muda Mangkunegaran yang bergerak di bidang kreatif dan budaya. Melalui karya Pameran Instalasi Surakusuma, Sanasuka menghadirkan pengalaman tiga dimensi waktu – Atita, Atiki, Anagata – sebagai perjalanan rasa yang dirasakan sebelum dipahami, merespon momen 1 Sura Be 1960.
Pracima Tuin adalah ruang budaya dan kuliner yang berada di dalam kompleks Pura Mangkunegaran. Didirikan sebagai bagian dari visi pembaruan Mangkunegaran, Pracima Tuin menjadi jembatan antara tradisi keraton dan pengalaman hidup kontemporer — menghadirkan cita rasa, keahlian, dan nilai-nilai laku Jawa dalam keseharian.