Surakarta, 27 April 2026 – Sarang Sareng berdiri di atas sepetak lahan di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Digagas oleh Gondrong Gunarto, seorang seniman dan komposer gamelan, tempat ini ditujukan sebagai wadah berkreasi dan bertumbuh bagi para seniman.
Nama Sarang Sareng sendiri dipilih karena memiliki filosofi yang dalam. ‘Sarang’ berarti tempat berteduh, bertelur, berproduksi, hingga tempat pulang. Dalam konteks ini, ‘sarang’ dapat bermakna tempat untuk membangun kreativitas, berproses kreatif, dan laboratorium dalam bidang seni.
Lain hal dengan itu, ‘Sareng’ berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang berarti bersama atau bareng. Gondrong mengatakan kata ‘sareng’ dipilih lantaran tempat ini dapat digunakan bersama-sama. Lebih lanjut, Sarang Sareng diharapkan dapat menjadi tempat berkreasi dan berproses bagi siapapun tanpa mengenal batasan.
Pemilihan nama ini tidak lahir dari ruang kosong. Kehadiran Sarang Sareng berangkat dari kegelisahan Gondrong soal ketiadaan tempat yang terjangkau untuk berkesenian. Baginya, proses kreatif tidak semestinya dihalangi oleh urusan bon atau izin yang dipersulit.

“Ini (Sarang Sareng, red) berawal dari kegelisahan saya ketika banyak tempat-tempat berproses, tetapi kadang-kadang ribet di (urusan) birokrasi, peminjaman,” terang Gondrong.
Dalam pembangunannya, Gondrong mengepalai langsung prosesnya dengan mengusung konsep alam. Tanpa menggunakan jasa arsitek profesional, dirinya mengandalkan kerja kolektif dan berusaha untuk tetap menghadirkan aksen alami seperti penggunaan rangkaian ranting untuk panggung hingga suara kemricik air sungai yang dipertahankan.

Bahkan dirinya tidak segan untuk memasukkan kemricik sungai itu ke rekaman karyanya. “Dengan begitu, saya harap teman-teman tetap bisa menikmati alam, sungai. Memang konsepnya di sini alam,” lanjutnya.
Sarang Sareng telah menumbuhkan banyak seniman, salah satunya Handarbeni band yang berada langsung di bawah asuhan Gondrong. Selain paduan musik klasik gamelan dan pop modern, kesenian lain yang bertumbuh di sini ialah karawitan. Dengan adanya aktivitas kreatif yang terus hidup, diharapkan semakin banyak kelompok-kelompok lain yang lahir.
