Festival Payung Indonesia XIII (FESPIN) kembali digelar di Kota Solo pada 4–6 September 2026. Mengusung tema “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”, festival tahun ini mengajak masyarakat melihat padi bukan sekadar bahan pangan, tetapi juga bagian penting dari perjalanan sejarah, kebudayaan, mitologi, hingga identitas masyarakat Nusantara.
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, ungkapan “belum makan nasi” identik dengan belum makan. Nasi telah menjadi bagian yang begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus simbol kemakmuran dan ketahanan pangan. Namun, perjalanan beras hingga menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia ternyata memiliki sejarah panjang.
Padi bukan merupakan tanaman asli Nusantara. Sebelum mengenal beras, masyarakat di wilayah Nusantara telah mengandalkan berbagai sumber pangan seperti singkong, ubi jalar, talas, dan jewawut. Benih padi diperkirakan mulai masuk ke Nusantara sekitar 1.500 SM dari wilayah Tiongkok dan India melalui jalur perdagangan.

Jejak keberadaan padi di Nusantara juga terekam dalam berbagai peninggalan arkeologis. Di antaranya temuan sekam padi di Gua Maros, Sulawesi Selatan, yang diperkirakan berasal dari sekitar 500 Masehi; jejak sekam padi di kawasan Candi Batujaya, Karawang, dari abad ke-7 hingga ke-13 Masehi; serta relief yang menggambarkan aktivitas pertanian sawah dan hama tikus pada Candi Borobudur yang berasal dari abad ke-9 Masehi.
Nasi kemudian semakin mengakar sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia setelah kemerdekaan, terutama melalui berbagai kebijakan pembangunan dan program swasembada pangan, termasuk Rencana Pembangunan Lima Tahun pada periode 1969–1974.
Perjalanan panjang budaya bertanam padi turut melahirkan penghormatan terhadap sosok Dewi Padi sebagai simbol kesuburan, kehidupan, dan kemakmuran. Di berbagai wilayah Nusantara, figur tersebut dikenal dengan nama berbeda, seperti Dewi Sri dalam tradisi Jawa, Bali, Lombok, dan Sulawesi; Nyi Pohaci dalam budaya Sunda; serta Sangiang Serri dalam tradisi Bugis.

Kisah mengenai dewi kesuburan juga ditemukan di berbagai negara Asia. Thailand mengenal Phosop, Kamboja memiliki Po Nagar, sementara Jepang memiliki Inari. Beragam kisah tersebut menunjukkan bagaimana tanaman pangan dan kehidupan agraris memiliki posisi penting dalam perkembangan kebudayaan masyarakat Asia.
Di Nusantara, penghormatan terhadap padi kemudian berkembang menjadi berbagai bentuk ekspresi budaya, mulai dari seni tari, musik, ritual panen, hingga sistem penanggalan pertanian seperti Pranata Mangsa.
Semangat inilah yang menjadi pijakan FESPIN 2026. Melalui tema “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”, festival mengajak seniman, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, serta masyarakat umum untuk mengeksplorasi kreativitas yang lahir dari perjalanan sejarah padi sekaligus membangun kembali kesadaran mengenai pentingnya ketahanan pangan nasional.
Rangkaian FESPIN 2026 diawali dengan Parade Payung Nusantara dan Pasar Festival. Kehadiran pasar festival menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan berbagai potensi ekonomi kreatif melalui pameran produk craft dan fashion.

Beragam UMKM dan komunitas turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Festival juga menghadirkan Sachiyo Sakakibara, artisan asal Jepang yang akan menampilkan karya desain fashion. Sementara itu, Pasar Kuliner menjadi bagian lain yang melengkapi pengalaman pengunjung selama berada di area festival.
Kemariahan festival berlanjut melalui rangkaian Seni Pertunjukan yang menghadirkan tari, musik, hingga dance fashion. Sebanyak 150 grup seni dari berbagai daerah di Indonesia turut berpartisipasi, mulai dari Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Tangerang Selatan, Sulawesi Selatan, Bogor, Bandar Lampung, Samarinda, Banyuasin, Malang, Pasuruan, Yogyakarta, Cilacap, dan sejumlah kota lainnya.
Tidak hanya menjadi perayaan budaya Nusantara, FESPIN 2026 juga membawa semangat Diplomasi Budaya Asia. Empat negara, yakni Thailand, Korea Selatan, Indonesia, dan India, akan berkolaborasi melalui sebuah fashion show yang menampilkan kekayaan busana tradisional masing-masing negara, mulai dari Thai fashion, hanbok, kebaya, hingga sari.
Penari asal Korea Selatan, Hueng Won Lee, juga akan menghadirkan karya tari tunggal dalam rangkaian festival.
Pertukaran budaya semakin diperluas melalui seni rupa. FESPIN 2026 menghadirkan Pameran 250 Artworks karya anak-anak dan remaja dari Korea, India, Mongolia, Polandia, Jepang, dan Vietnam. Pengunjung juga dapat mengikuti Workshop Lukis Kipas Korea sebagai bagian dari pengalaman interaktif festival.

FESPIN 2026 tidak berhenti pada pertunjukan dan hiburan. Festival juga menyediakan ruang edukasi melalui diskusi, sarasehan, dan workshop yang berlangsung di Stand Rumah Padi.
Sejumlah agenda yang dihadirkan antara lain sarasehan “Sejarah Padi di Nusantara” bersama Temanggung Heritage, workshop bubur sorgum, sarasehan “Dari Sawah ke Meja Makan”, serta workshop pembuatan pupuk organik cair.
Festival juga menjadi ruang untuk membahas hubungan antara festival, branding, promosi, dan perkembangan experience economy. Hal tersebut akan dibahas melalui workshop “Naik Kelas Lewat Festival: Strategi Branding & Promosi Produk di Era Experience Economy” yang menghadirkan Vega Viditama.
Semangat membangun jejaring antarfestival turut diwujudkan melalui Sister Festival Talkshow: Dari Jejaring Kerja Festival Menuju Diplomasi Budaya dan Kolaborasi Global. Forum ini membahas bagaimana warisan budaya dapat menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antarnegara sekaligus membuka peluang kolaborasi di bidang seni, pariwisata, ekonomi kreatif, dan diplomasi budaya.
FESPIN 2026 juga menghadirkan Festival Futures Forum, ruang dialog dan pertukaran gagasan bagi para pengelola festival. Forum tersebut membahas bagaimana festival dapat berkembang menjadi sebuah ekosistem kebudayaan yang memberikan dampak bagi masyarakat, ekonomi kreatif, pariwisata, diplomasi budaya, jejaring internasional, hingga keberlanjutan lingkungan.
Festival Futures Forum akan melibatkan pengelola Festival Cisadane, Asia Africa Festival, dan Atourin. Rangkaian ini juga dilengkapi dengan Ruang Pameran Dokumentasi Festival, yang menampilkan perjalanan berbagai festival melalui foto, poster, dan materi visual lainnya.
Selain menjadi ruang pertunjukan dan pertemuan budaya, FESPIN juga terus memperkuat perannya sebagai ruang literasi.
Pada penyelenggaraan tahun ini, FESPIN 2026 akan meluncurkan buku kelima berjudul “Catra Padi, Kumpulan Dewa Dewi Kesuburan”. Buku tersebut merupakan karya kolaboratif yang melibatkan 47 partisipan penulis dan mengangkat berbagai perspektif mengenai mitologi serta figur dewa-dewi kesuburan dalam kebudayaan.
Kehadiran buku ini menjadi salah satu upaya untuk mendokumentasikan pengetahuan dan narasi budaya agar dapat terus dibaca, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lebih dari sekadar festival seni dan budaya, FESPIN 2026 membawa refleksi mengenai nilai kehidupan yang dapat dipelajari dari padi.
Padi tidak tumbuh dalam satu malam. Ia membutuhkan benih, tanah, air, perawatan, waktu, dan proses panjang hingga akhirnya menjadi makanan yang tersaji di atas meja. Filosofi tersebut menjadi gambaran bahwa kebudayaan dan identitas sebuah bangsa juga tidak pernah lahir secara instan.
Identitas budaya terbentuk melalui perjalanan panjang yang melibatkan pertemuan, percampuran, adaptasi, penerimaan, serta kerja kolektif lintas generasi.
Melalui “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”, FESPIN 2026 mengajak masyarakat untuk tidak hanya menikmati hasil akhir—seperti nasi yang tersaji di atas piring—tetapi juga memahami dan menghargai perjalanan panjang yang berada di baliknya.
Sebab, kemakmuran yang dirasakan hari ini merupakan bagian dari warisan sejarah, budaya, pengetahuan, dan kerja kolektif yang telah berlangsung selama ribuan tahun.